dunia rumpiku

Tuesday, May 09, 2006

Di antara dua benua

Sejenak aku berpikir, di belahan bumi sebelah manakah aku harus berpijak? Tak kusadari, sudah hampir delapan tahun aku menancapkan pijakan kakiku ini di Jerman, tapi apakah itu suatu nilai plus untukku? Entahlah!!! Delapan tahun aku tak tahu harus berbuat apa, delapan tahunpun berlalu tanpa lagi kegairahan hidup seperti dulu. Delapan tahun aku tenggelam dengan mimpi-mimpi yang tak pernah pudar, yang entah kapan itu akan menjadi kenyataan.

Dan selama delapan tahun pula kutinggalkan Surabaya, kota kenangan, kota sejuta pesona. Tiada lagi aksi dan candaku bersama mereka yang terbuang, saat aku menemani mereka makan siang di panti-panti. Ketika aku menapakan kembali kakiku di Surabaya, bulan 6 Agustus 2205, ada banyak kejutan yang aku temukan di kota tercinta. Semua menjadikan khayalanku buyar, karena terlalu banyak hal-hal yang asing bagiku. Terperangah aku dibuatnya, ternyata Indonesia bukanlah seperti yang dulu lagi, keluguan gadis kampung tak lagi aku temukan. Ketika aku harus mengakhiri liburanku, aku sedih, karena tepat dengan selenggarakannya ulang tahung kemerdekaan RI, aku harus terbang ke Jerman.

Saat aku kembali lagi ke kota Pahlawan-ku pada tanggal 1 Oktober 2005, aku kembali terpukau melihat sisi lain yang belum aku jelajahi, di antara rasa heran dan takjub, aku mengalami rasa kekhawatiran dan juga miris, ternyata tidak banyak lagi rasa cinta kebudayaan yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Akupun tidak munafik bahwa kemodernan itu perlu, dan aku sendiri juga menikmati masuknya dunia 'High-Tech' di Indonesia, malah aku patut mensyukurinya...karena banyak memberiku kemudahan dalam mengerjakan banyak hal, tapi....mengapa nilai budaya Indonesia semakin kecil di mata mereka???

Di kampung-kampung desa yang dulu sering kutemui wanita berkebaya, kini mulai jarang kutemui, gadis-gadis desa tidak lagi jalan berduyun-duyun di pematang sawah, tetapi banyak kulihat mereka tertawa cekikikan dan bercanda dengan bahasa yang vulgar di tempat umum.

Hijaunya kebun dan sawah juga semakin berkurang, berganti dengan gedung-gedung menjulang tinggi namun tak terawat. Apalagi di Surabaya, semakin hari semakin panas mengekang sampai mencekik tenggorokan ini. Di sana sini banyak kutemui onggokan-onggokan gedung mewah tak bertuan, sehingga tidak lagi menampakan keagungan seni arsitekturnya, yang ada hanya kesan angker, karena semua kusam dengan taman semak belukarnya, apalagi setiap malam hanya dipakai para penjahat dan maling untuk mengadakan 'rapat'.

Dan ketika aku datang kembali menginjakkan kakiku di atas tanah air tercinta pada tanggal 1 Maret 2006, aku tertawa terbahak-bahak, ternyata Indonesia yang ada di otakku berhenti sampai pada saat sebelum aku meninggalkannya. Perkembangan yang banyak terjadi di Indonesia tak terrekam di otakku, yang ada hanya Indonesia yang sederhana yang mengenal sedikit perkembangan technologi dan masih banyak tenaga manual yang dibutuhkan.

Kembali aku tertawa terbahak-bahak, saat melihat banyak remaja dan dewasa bahkan anak-anak berdandan ala 'bintang' dengan gaya rambut seperti belum selesai dicukur, atau gaya badai alias angin ribut yang meliputi kepala bagian atas mereka, bahkan warna yang super heboh, hingga dari jauh para cowoknya tampak seperti membawa ayam kate diatas kepala mereka, sama kejadiannya saat aku melihat video klip penyanyi-penyanyi barat yang aku tiru gaya dandannya saat itu (rekaman video tahun 1980-1990), terlihat aneh ternyata.... Ha..ha..ha...ternyata apa yang dikira modern itu belum tentu indah...

Kini kebimbangan melanda hatiku, haruskan aku tetap memperkenalkan bangsaku dengan cerita-cerita indah bak nirwana dengan keanggunan gadis Indonesia yang kini enggan memakai busana batik.....jangankan kebaya, bergaun panjangpun ogah, mereka hanya mau memakai busana P4 (Pamer Perut, Pantat dan Paha), mungkin gerah ya....karena Indonesia sangat panas sekarang, atau gagah perkasanya kaum prianya yang berkulit sawo matang dan berambut cepak, tapi kenyataannya pada saat ini mereka bingung memutihkan dan melangsingkan badan ditambah berrambut panjang awut-awutan dengan potongan asal jadi, yang kata mereka 'Cool man....' plus gaya jalannya yang melambai pula seirama dengan lambaian rambutnya? Haruskah aku suguhkan cerita tentang panorama yang indah mempesona namun kini hanya berganti menjadi dunia modern dengan kota yang hiruk pikuk dan berbalut gedung kaca?

Oh..........entahlah, paling tidak masih ada Bali yang bisa aku ceritakan, walaupun tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat lain, paling tidak masih banyak kaum hawa dari mereka yang memakai busana tradisional, mereka tak malu berkebaya di depan orang banyak bahkan di depan kaum turis, masih banyak pula lelaki yang mau melaksanakan adat di sela-sela kehidupan modern, dan yang terpenting.....mereka tak canggung memainkan musik ataupun menyanyi lagu-lagu daerah di saat mereka mengaso atau istirahat dari kegiatan mereka.

Walaupun aku hidup di dua benua yang berbeda, itu tak akan mengubahku dari seorang perempuan Indonesia menjadi perempuan Eropa, aku akan tetap mempertahankan seni budaya Indonesia, paling tidak aku akan mencobanya. Berbusana batik adalah salah satunya, aku tak akan malu untuk memakainya, bahkan kebaya adalah pilihan utamaku saat ini, kalo bukan dari kita sendiri yang memulainya dari yang terkecil, bagaimana kita dapat mempertahankan seni yang tersisa. Paling tidak kita member contoh kecil, kalau tidak, siapa lagi yang mau memulainya...?

Namun bukan berarti aku tidak akan memperkenalkan dunia Eropa pada Indonesia, banyak cerita yang aku sebarkan kepada orang-orang di sekitarku untuk memperbaiki cara hidup yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka, dari yang terkecil, yaitu disiplin dan berusaha mengerjakan sesuatu sendiri. Karena memang kebiasaan orang kita adalah senang dimanja. Dan kedisplinan itu sudah aku terapkan dalam hidupku belakangan ini, memang berat bagiku untuk memulainya dan butuh banyak pengorbanan, tapi saat aku memulai mempraktekkannya di Indonesia, walaupun dalam keadaan sakit ternyata aku dapat melakukan semuanya sendiri, dan apa yang dilakukan sendiri dari belajar memang jatuhnya lebih irit!!!

Hidup di dunia benua sangat menyenangkan, karena kita dapat melihat banyak keragaman budaya yang berbeda, tapi juga bikin capai....abis jauh banget sih, jadi kalo terbang lama, dan yang pastiiiiiiiii berat di ongkos!!!

3 Comments:

  • At 12:47 AM, Blogger Hesti said…

    numpang test comment ya mbak, soale di blogku lagi gak bisa comment tuh :(

     
  • At 3:19 AM, Blogger Hesti said…

    Mbak, kok gak nulis lagi? sibuk ya?
    kangen juga baca tulisan2 Mbak Fanny...

     
  • At 2:59 AM, Blogger favefly said…

    udah baca belommmmmmm.......
    silahkan kasih comment baru deh....

     

Post a Comment

<< Home