dunia rumpiku

Monday, January 16, 2006

Oh...susahnya berbahasa Jerman...(2)

Ini lagi-lagi pengalaman nyata yang bikin aku jadi bener-bener malu.

Kayaknya banyak kisahku deh di Goethe Institut, itu yang membuat aku kian terkenal di sekolah bahasa Jerman di Bremen tercinta. Makanya kalo banyak cowok deket sama aku atau banyak teman yang ngundang aku dateng ke Wohnheim selama aku kursus di situ, bukan karena aroma rexona-ku loh...tapi mereka berharap aku salah ngomong yang bisa jadi bahan guyonan yang bikin aku jadi sebel, apalagi kalo mereka ngingetin lagi pas kami lagi suntuk. Lumayan kata mereka untuk ngilangin stress.


Nah, ini lagi-lagi kejadiannya di Goethe Institut, yang akan mengadakan festival kecil-kecilan. Dan aku beserta grup-ku yang selalu kompak mendapat tugas untuk menghias ruangan kami. Tentu saja kami dengan senang hati menerima tugas itu, apalagi kami sudah terkenal sebagai ahli dekorasi yang kreatif.

Setelah diskusi dan comot ide dari sana sini, akhirnya mereka memutuskan aku yang membuat dekorasinya dan mereka yang akan mencari bahan serta menyediakan konsumsi. Aku ho-oh aja, karena aku emang seneng bikin pernak-pernik hiasan pesta, dan aku juga males keluar, karena hawa diluar terlalu dingin buatku yang belum terbiasa dengan musim dingin.

Setelah rapat, diputuskan Damian (Argentina), Carrie (Taiwan) dan Suzanna (Mexico) yang akan mencari bahan dekorasi, Koga (Jepang) dan Sebastian (Canada) menyediakan konsumsi, Hasan (Yunani), Desmond (Thailand) dan aku sebagai team pelaksana dan kreatif. Jadi kami bisa datang agak telat dikit hi..hi..hi..., sambil menunggu mereka ngasih kabar kalo mereka sudah hampir datang, kami nangkring dulu di cafe Grün yang ada di sebelah Goethe Institut. Abis tempatnya lumayan keren dan harganya terjangkau banget.

Setelah semua telah datang, kami langsung memulai melaksanakan tugas kami dengan penuh semangat diselingi gurauan atau rumpian gosip yang lagi beredar, dan tentu aja sambil ngedate untuk jalan bareng lagi, abis emang kami paling demen jalan bareng.

Gambar sana-gambar sini, gunting sana-gunting sini, terus yang lain jadi ikutan ngebantuin mewarnai atau apa aja, pokoknya kami maunya tugas cepet selesai dan cepet kabur lagi. Pas hampir selesai, kami menikmati hasil yang tinggal sentuhan akhir aja. Ehmmm.....lumayan bagus juga sih menurut kami, tapi begitu semua sudah ditempel di dinding, kami memutuskan untuk menambahkan saputan warna hijau muda supaya nuansa teduh dan asri lebih terasa. Seperti biasa...pasti aku yang dapet giliran finishing yaitu memulas pewarna yang sudah disiapkan, mereka bilang kalo aku yang melakukan pasti lebih halus hasilnya karena aku engga grogi kalo megang kuas.

Ya...karena sudah terlanjur dipasang di dinding dan aku terlalu pendek untuk menyaput bagian paling atas, maka aku putuskan untuk naik kursi, dan Hasan membantu memegang mangkuk berisi pewarna, sedang Koga yang megangin kursi. Sedang Damian berdiri di sebelah kiriku untuk siap-siap membantu kalo aku memerlukan sesuatu. Yang lain duduk di meja seberang untuk melihat hasilnya sambil ngemil camilan yang ada. Poles sana-poles sini, teman-teman yang lain bilang udah ok, jadi aku berputar pelan-pelan, tersenyum lega dan bersiap-siap untuk turun, nah disinilah kecelakaan kata terjadi, koq ya pas ada beberapa orang dari ruang lain masuk ke ruangan kami karena mau melihat hasil dekorasi kami. Karena aku takut kalo kuas yang aku pegang akan menyentuh tembok ruangan yang putih bersih, maka aku minta tolong salah satu temanku untuk memegang kuasku sambil ngomong,"Kannst du bitte mein Brust halten?" Dengan serempak Damian, Hasan dan Koga menyahut,"Gerne....!!!", dan diiringi gelak tawa dari banyak orang yang ada di ruangan itu.

Sialan, maunya mau ngomong Bürste (kuas) keseleo jadi Brust (dada), aduh....malunya engga ketulungan. Sejak itu aku makin tenar dengan kata-kataku yang super 'wouw'. Tentu aja aku engga berharap peristiwa konyol itu terulang lagi........

0 Comments:

Post a Comment

<< Home