dunia rumpiku

Sunday, January 15, 2006

Kisah kasih yang tak tercapai....

Dulu.....when I was young, pada masih seger-segernya nih..., aku pernah bercita-cita dapet cowok yang ok banget, dari fisik, penampilan, kepribadian dan kantong yang juga ok he..he..he...(matre banget ya..., hush!!! Bukannya materialistis, tapi realistis aja....abis aku khan paling demen kalo dimanja-manjain..., lagian gak usah lah munafik...kalo punya cowok gak ada jaminan hidupnya, buat apa ditungguin hi..hi..hi...).

Nah, ngga tahu siapa yang memulai, entah dari akunya atau itu cowok, pokoknya mendadak aja semuanya terjadi. Maksudnya setelah ketemuan, entah pake jabu-jabu apa, pokoknya itu cowok setelah ketemu sama aku jadi ngintiiiiiiiill melulu. Seneng juga sih dikintilin cowok cakep he..he..he...apalagi dia memenuhi syarat banget deh.

Dari pertemuan yang satu dan pertemuan yang selanjutnya..., lama-lama kami jadi keranjingan untuk nge-date terus deh. Pokoknya kami lupa daratan dan selalu berusaha untuk meluangkan waktu walaupun satu jam saja.....kata Asti si penyanyi yang bersuara mesra hhhmmmmm....

Dari cara dia memperlakukan aku, dan juga sifat-sifat lain yang aku tahu...dia orangnya sosial banget dan juga gentleman banget deh, sampai aku terbuai oleh kata-kata yang mesra di telingaku. Seribu satu warna, tak ada yang seindah warna yang dilukiskan dalam hidupku. Pokoknya bagiku dia ngga ada cacatnya deh!!! (saat itu.......)

Sampai pada suatu ketika, diantara berisiknya musik pesta perpisahan di rumah seorang teman, dia mengajakku mojok, menuntunku dengan mesra dan mencari tempat yang lebih tenang dan agak gelap. Hatiku menjadi bergetar, kala darah mudaku bergolak, sampe keluar keringat dingin lagi.....

Akhirnya kami menemukan tempat yang sesuai dan dia mengajakku duduk disudut yang temaram oleh lampu 5 watt, tapi dia sendiri tetap berdiri, berjalan hilir mudik dengan bibir yang dikatupkan rapat dan matanya memejam. Dia berjalan hilir mudik kayak setrikaan dihadapanku... Malam itu agak dingin, tapi peluh tetap membasahi sekujur tubuhnya dan membuat kemeja biru itu menjadi kuyup, lalu dia duduk bersimpuh dihadapanku, dan dia menempelkan kepalanya di lututku, tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu......sampai aku sendiri jadi tertegun. Aku bingung harus berbuat apa...., aku tak tahu bagaimana harus menghiburnya....

Ketika aku berniat untukbangkit, dia makin memeluk erat kedua lututku, aku jadi makin bingung... Sampai pada akhirnya dia berkata, bahwa aku harus mendengarkan pengakuannya... Akhirnya ditengah kebingunganku, aku duduk kembali di bangku reot itu, gelisah di tengah keresahan. Ada apakah dengan dia.....???

Setelah menunggu beberapa saat, lalu dia duduk disebelahku, memegang erat dan meremas tanganku... Lalu kubelai rambutnya yang juga oleh keringat, namun harum aroma tetap tercium dihidungku yang rada pilek. Ketika dia sudah siap untuk menyampaikan isi hatinya, aku jadi makin deg-deg-an.... Ganti aku yang gemetaran....

Dan bagaikan disambar geledek, aku jadi tersentak dan terhenyak ditembok dingin yang menjadi sandaranku. Pengakuan terakhir itu membuat aku jadi sangat terpukul ketika dia berkata padaku,"Fanny, please....forgive me, jangan kau jauhin aku, aku sudah mencoba untuk selalu membakar semua gelora di dada saat aku bersamamu, aku selalu mencoba mencumbuimu dalam setiap mimpiku, tapi aku tak sanggup lagi melawan kenyataan ini, bahwa aku seorang homo...."

Aku terpaku menatap wajah gantengnya yang selalu mempesonaku. Aku terdiam seribu bahasa di malam yang membisu, tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Aku hanya terperangah dan ahhhh...........entah apa lagi yang ada dalam benakku saat itu.

Berdua kami duduk membisu lagi, lalu kupegang erat tangannya dan mencoba untuk tersenyum..., aku mengangguk sedih. Tapi aku mencoba memaklumi keadaannya, tentu dia telah lama berjuang keras untuk melawannya, tapi ya....nasib!!! Akhirnya aku kalah deh dengan takdirnya.

Aku mencoba untuk tetap dekat dengannya, kami tetap berdua berjalan dengan mesranya, sampai pada akhirnya dia pamit untuk pergi, karena dia takut banyak orang tahu siapa dia sebenarnya. Aku sedih dan menangisi semua itu...tapi aku harus menghargai keputusannya.

Walaupun saat itu kami telah berencana untuk menikah jika usia kami telah mengijinkan, sekedar menjadi topeng buat keluarganya yang sangat terhormat, tapi di saat waktu itu tak jauh lagi, dia mengatakan bahwa sangat tidak fair buatku kalau kami melakukan itu. Dia tak mau orang akan berpikir bahwa aku perempuan engga beres kalau suatu saat orang memergoki aku dengan pria lain.

Terputuslah kisah kasih yang telah kami jalani pada saat masa remaja....kemesraan itu telah lenyap, entah ke mana dia pergi meninggalkan aku yang sendiri dalam sedih. Terbayang kembali ketika dia duduk dengan manisnya dengan handuk di tangan ketika menungguiku berenang, ketika dia membasuh keringat di keningku pada saat aku lelah setelah berlatih taekwondo. Dia yang rajin mendengarkan celotehan kekesalanku pada saat aku lagi sebel dengan siapa saja. Dia yang selalu tersenyum sambil memetik gitar menanggapi omelanku.

Pernah aku berusaha mencari seseorang yang seperti dia, tapi aku tak pernah menjumpai. Aku jadi gelisah sendiri..., patah semangat mencari pengganti yang seperti dia. Tak ada yang seromantis dia deh. Betapa beruntungnya siapapun yang mendapatkannya.

Terkadang aku jadi tersenyum sendiri, ketika aku cemburu dengan fantasiku sendiri, tak mungkinlah aku bersaing dengan para pria untuk merebut hatinya. Tapi paling tidak kami pernah saling mewarnai hidup bersama, walaupun akhirnya warna itu tak lagi bisa membaur.

Pada saat aku diam...kembali aku terkenang pada kisah kasih abstrak itu, tak percaya tapi nyata, heran dengan cerita cinta yang tak wajar. Sampai saat ini, aku selalu mendoakan agar dia menemukan pendamping yang sesuai....mungkin yang cerewet, centil dan judes kayak aku ya....

0 Comments:

Post a Comment

<< Home