dunia rumpiku

Friday, August 25, 2006

Lumpia....lumpia.....

Ehm...pernah ngga sih kalian ngebayangin, jauh-jauh dari Indonesia terbang ke Jerman hanya jadi bakul lumpia ha..ha..ha... Inilah nasibku yang jauh merambah dunia hingga terdampar di Bremen, ternyata nyasarnya di dapur saja dan sehari-harinya hanya meluweskan jari dalam hal gulung menggulung. Kalo dulu di Indonesia banyak nggulungin rambut orang atau nggulungin kain, eh...di negara orang jadinya nggulungin lumpia.

Emang seneng sih kalo akhirnya makanan favourite orang Indonesia jadi terkenal di luar negeri, tapi jadi bete juga kalo akhirnya rambut jadi lepek karena hampir tiap hari harus berkutet di singgasana tercinta hanya untuk menggoreng lumpia.

Aku engga tahu sejak kapan aku dipatenkan oleh teman-teman jadi tukang lumpia, tapi yang pasti tiap ada acara selalu deh aku dimintain tolong atau mereka sengaja pesan untuk dibikinin lumpia. Dan aku engga tahu apa yang bikin mereka terkiwir-kiwir oleh lumpia-ku.

Padahal ngga jarang kalo aku ditanyain resepnya, dan aku ngejawabnya ya apa adanya...resep dasar turunan nenek moyang, malah biasanya sengaja aku tambahin 'jojor'....''jokes jorok' ....biar mereka jadi puyeng....biar mereka bikin sendiri.... Tapi ternyata mereka cuek aja tuh...malah makin sering pesen he..he..he... Mereka terpesona dengan rasa lumpiaku, atau ter'sengat' banyolannya....atau males bikin sendiri aja ya....

Emang ada enaknya nerima pesenan lumpia, jadi ada pengganti acara melamun yang bisa nambahin uang saku, tapi akhirnya aku jadi kelabakan juga kalau tiap hari ada pesenan lumpia. Karena aku ngga sempat lagi 'leyeh-leyeh' sambil ngelamun (ngga juga sih...karena acara ngelamun tetep aja berlanjut sambil nggulungin lumpia!!!) di dekat jendela ha..ha..ha...

Tapi yang pasti aku jadi segen untuk keluar, karena rambutku jadi berminyak dan bau....khas penjual lumpia!!! Akhirnya .......ya jadi harus sering keramas deh, kalo engga sempet ya terpaksa rambut ini aku gelung cepol, makin menambah kekhasan bakul lumpia.

Tapi ya..., anggap aja semua itu rejeki dibalik hobby, kalo aku ngga punya body atletis n ngga ada keahlian khusus dibidang olah raga yang bisa menghantarkan aku jadi 'miss Olympia' ya...untuk sementara aku bersyukur jadi 'miss Lumpia' aja deh........

Lumpia...lumpia.....
Lumpia........!!!!

Monday, August 14, 2006

Andai aku jadi bintang.....

Malam kayak begini, enaknya mengkhayal apa aja yang mungkin engga semua akan bisa terwujud... Entah mau mengkhayal sesuatu yang manis ataupun yang fantatis. Ketika aku menulis judul tulisan nipun aku sudah mulai berkhayal, khayalan engga ada ujung ceritanya...

Khayalan sudah menjadi bagian dari diriku pada setiap malam yang sunyi sepi begini. Kadang membuatku tersenyum...kadang pula membuatku terisak tanpa sadar. Dan tentu khayalan menjadi bintang adalah khayalan yang selalu menemaniku sejak aku mulai mengerti apa itu mimpi.

Sejak kecil aku punya khayalan menjadi bintang....yang bagi setiap orang itu hal yang terlalu tinggi untuk aku raih. Ketika ku kecil, bintang yang ingin ku raih bukanlah bintang yang diatas panggung...akan tetapi bintang kejora yang kata orang sangat indah cahaya, melebihi berjuta-juta bintang yang bertaburan di atas langit...yang tentu aja membuat orang di sekitarku tertawa... Tapi ya...itulah impian seorang gadis cilik yang belum mengenyam banyak ilmu. Impian simpel yang tak mungkin terwujudkan, bahkan mengundang tawaan, yang tentu saja membuat aku sedih dan kecewa...

Tetapi ketika aku mulai menangis, mama dan papa selalu meghibur, kalau aku tak dapat meraih bintang kejora, mengapa bukan aku saja yang menjadi bintang... Dan itu aku wujudkan dengan kreativitasku, dengan kegemaranku mengerjakan pekerjaan tangan, sehingga semasa aku kecil, aku menjadi bintang di setiap lomba ketrampilan tangan baik di sekolah maupun di gereja serta di lingkungan tempt tinggalku. Sayangnya...saat itu aku tidak pernah mendapat wujud penghargaan yang bisa dibingkai manis, kecuali hadiah-hadiah yang cukup menghibur gadis kecil seusiaku.

Ketika aku mulai meningkat remaja, aku ingin mengembangkan ambisiku mejadi bintang lain, namun tentu tak sesimpel menjadi bintang ketika masa kanak-kanak. Dengan keyakinan memiliki pesona yang berbeda...aku ingin menjadi bintang di atas panggung. Dan dengan tekad dan kemauan yang keras aku berusaha untuk mengikuti pemilihan aneka gelar keputrian.

Dan ketika aku mulai berhasil meraih beberapa penghargaan yang nyata, ternyata malah menjadi boomerang bagiku, karena piala-piala itu bukan membuat mama bahagia, melainkan sangat berang... Dengan hati sedih, terpaksa aku rontokan piala-piala itu, dan aku simpan di dalam karton Supermie di bawah tempat tidurku... Oh, ternyata tak mudah perjalanan ke atas untuk menyatu dengan bintang yang lain.

Tetapi paling tidak, papa menghiburku dengan kata-kata yang lembut ditelingaku, dia berbisik...'Non..., kamu tak harus menjadi bintang untuk dilihat orang banyak, biarlah kamu hanya menjadi bintang kejora milik papa dan keluarga...' Dan akupun terisak dalam pelukannya. Oh..andai aku jadi bintang bintang di atas panggung, tentu aku tak punya banyak waktu untuk bertemu dengan keluargaku, apalagi untuk papa, yang jarang berada di rumah.

Ketika aku menjadi dewasa, keinginan menjadi bintang tetap selalu menggelitik hatiku, tapi masih teringat dengan peristiwa lama, aku ingin menjadi bintang yang lain lagi. Tetapi kenyataannya...tak pernah lagi ada kesempatan untuk meraih bintang. Jarak itu semakin jauh, dan aku semakin terpuruk pada tanah yang aku pijak. Dengan beribu hasrat yang ada, aku hanya sanggup melamun, mengimpikan kesempatan untuk meraih bintang kejoraku.

Sayangnya, semakin aku menunggu waktu yang tepat untuk menjadi bintang, semakin banyak bintang pilihan baru bermunculan, dan aku semakin bertambah usia....tersudut dalam pelukan emosi yang tak pernah terekspresikan. Aku semakin gontai dan terduduk di penantian yang tak pernah berakhir...

Tapi aku tak pernah menyesali takdir, walaupun aku tak terwujud sebagai bintang yang bisa dilihat orang banyak, tapi aku tetap bangga...karena aku adalah bintang untuk keluargaku dan bintang kejora milik papa. Dan itu sangat lebih berarti...

Oh, andai aku jadi bintang.....
tentu aku tak punya banyak waktu untuk keluargaku...

Oh, andai aku jadi bintang.....
tentu aku tak punya banyak waktu untuk sahabatku...

Oh, andai aku jadi bintang.....
tentu aku tak punya banyak waktu untuk hobbyku...

Oh, andai aku jadi bintang.....
......................................................................................

Tuesday, May 09, 2006

Di antara dua benua

Sejenak aku berpikir, di belahan bumi sebelah manakah aku harus berpijak? Tak kusadari, sudah hampir delapan tahun aku menancapkan pijakan kakiku ini di Jerman, tapi apakah itu suatu nilai plus untukku? Entahlah!!! Delapan tahun aku tak tahu harus berbuat apa, delapan tahunpun berlalu tanpa lagi kegairahan hidup seperti dulu. Delapan tahun aku tenggelam dengan mimpi-mimpi yang tak pernah pudar, yang entah kapan itu akan menjadi kenyataan.

Dan selama delapan tahun pula kutinggalkan Surabaya, kota kenangan, kota sejuta pesona. Tiada lagi aksi dan candaku bersama mereka yang terbuang, saat aku menemani mereka makan siang di panti-panti. Ketika aku menapakan kembali kakiku di Surabaya, bulan 6 Agustus 2205, ada banyak kejutan yang aku temukan di kota tercinta. Semua menjadikan khayalanku buyar, karena terlalu banyak hal-hal yang asing bagiku. Terperangah aku dibuatnya, ternyata Indonesia bukanlah seperti yang dulu lagi, keluguan gadis kampung tak lagi aku temukan. Ketika aku harus mengakhiri liburanku, aku sedih, karena tepat dengan selenggarakannya ulang tahung kemerdekaan RI, aku harus terbang ke Jerman.

Saat aku kembali lagi ke kota Pahlawan-ku pada tanggal 1 Oktober 2005, aku kembali terpukau melihat sisi lain yang belum aku jelajahi, di antara rasa heran dan takjub, aku mengalami rasa kekhawatiran dan juga miris, ternyata tidak banyak lagi rasa cinta kebudayaan yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Akupun tidak munafik bahwa kemodernan itu perlu, dan aku sendiri juga menikmati masuknya dunia 'High-Tech' di Indonesia, malah aku patut mensyukurinya...karena banyak memberiku kemudahan dalam mengerjakan banyak hal, tapi....mengapa nilai budaya Indonesia semakin kecil di mata mereka???

Di kampung-kampung desa yang dulu sering kutemui wanita berkebaya, kini mulai jarang kutemui, gadis-gadis desa tidak lagi jalan berduyun-duyun di pematang sawah, tetapi banyak kulihat mereka tertawa cekikikan dan bercanda dengan bahasa yang vulgar di tempat umum.

Hijaunya kebun dan sawah juga semakin berkurang, berganti dengan gedung-gedung menjulang tinggi namun tak terawat. Apalagi di Surabaya, semakin hari semakin panas mengekang sampai mencekik tenggorokan ini. Di sana sini banyak kutemui onggokan-onggokan gedung mewah tak bertuan, sehingga tidak lagi menampakan keagungan seni arsitekturnya, yang ada hanya kesan angker, karena semua kusam dengan taman semak belukarnya, apalagi setiap malam hanya dipakai para penjahat dan maling untuk mengadakan 'rapat'.

Dan ketika aku datang kembali menginjakkan kakiku di atas tanah air tercinta pada tanggal 1 Maret 2006, aku tertawa terbahak-bahak, ternyata Indonesia yang ada di otakku berhenti sampai pada saat sebelum aku meninggalkannya. Perkembangan yang banyak terjadi di Indonesia tak terrekam di otakku, yang ada hanya Indonesia yang sederhana yang mengenal sedikit perkembangan technologi dan masih banyak tenaga manual yang dibutuhkan.

Kembali aku tertawa terbahak-bahak, saat melihat banyak remaja dan dewasa bahkan anak-anak berdandan ala 'bintang' dengan gaya rambut seperti belum selesai dicukur, atau gaya badai alias angin ribut yang meliputi kepala bagian atas mereka, bahkan warna yang super heboh, hingga dari jauh para cowoknya tampak seperti membawa ayam kate diatas kepala mereka, sama kejadiannya saat aku melihat video klip penyanyi-penyanyi barat yang aku tiru gaya dandannya saat itu (rekaman video tahun 1980-1990), terlihat aneh ternyata.... Ha..ha..ha...ternyata apa yang dikira modern itu belum tentu indah...

Kini kebimbangan melanda hatiku, haruskan aku tetap memperkenalkan bangsaku dengan cerita-cerita indah bak nirwana dengan keanggunan gadis Indonesia yang kini enggan memakai busana batik.....jangankan kebaya, bergaun panjangpun ogah, mereka hanya mau memakai busana P4 (Pamer Perut, Pantat dan Paha), mungkin gerah ya....karena Indonesia sangat panas sekarang, atau gagah perkasanya kaum prianya yang berkulit sawo matang dan berambut cepak, tapi kenyataannya pada saat ini mereka bingung memutihkan dan melangsingkan badan ditambah berrambut panjang awut-awutan dengan potongan asal jadi, yang kata mereka 'Cool man....' plus gaya jalannya yang melambai pula seirama dengan lambaian rambutnya? Haruskah aku suguhkan cerita tentang panorama yang indah mempesona namun kini hanya berganti menjadi dunia modern dengan kota yang hiruk pikuk dan berbalut gedung kaca?

Oh..........entahlah, paling tidak masih ada Bali yang bisa aku ceritakan, walaupun tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat lain, paling tidak masih banyak kaum hawa dari mereka yang memakai busana tradisional, mereka tak malu berkebaya di depan orang banyak bahkan di depan kaum turis, masih banyak pula lelaki yang mau melaksanakan adat di sela-sela kehidupan modern, dan yang terpenting.....mereka tak canggung memainkan musik ataupun menyanyi lagu-lagu daerah di saat mereka mengaso atau istirahat dari kegiatan mereka.

Walaupun aku hidup di dua benua yang berbeda, itu tak akan mengubahku dari seorang perempuan Indonesia menjadi perempuan Eropa, aku akan tetap mempertahankan seni budaya Indonesia, paling tidak aku akan mencobanya. Berbusana batik adalah salah satunya, aku tak akan malu untuk memakainya, bahkan kebaya adalah pilihan utamaku saat ini, kalo bukan dari kita sendiri yang memulainya dari yang terkecil, bagaimana kita dapat mempertahankan seni yang tersisa. Paling tidak kita member contoh kecil, kalau tidak, siapa lagi yang mau memulainya...?

Namun bukan berarti aku tidak akan memperkenalkan dunia Eropa pada Indonesia, banyak cerita yang aku sebarkan kepada orang-orang di sekitarku untuk memperbaiki cara hidup yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka, dari yang terkecil, yaitu disiplin dan berusaha mengerjakan sesuatu sendiri. Karena memang kebiasaan orang kita adalah senang dimanja. Dan kedisplinan itu sudah aku terapkan dalam hidupku belakangan ini, memang berat bagiku untuk memulainya dan butuh banyak pengorbanan, tapi saat aku memulai mempraktekkannya di Indonesia, walaupun dalam keadaan sakit ternyata aku dapat melakukan semuanya sendiri, dan apa yang dilakukan sendiri dari belajar memang jatuhnya lebih irit!!!

Hidup di dunia benua sangat menyenangkan, karena kita dapat melihat banyak keragaman budaya yang berbeda, tapi juga bikin capai....abis jauh banget sih, jadi kalo terbang lama, dan yang pastiiiiiiiii berat di ongkos!!!

Monday, January 30, 2006

Rambutku

Rambutku halus....hitam berseri.....karena kupakai.....kao feather shampoo.....

Eh..apa hubungannya ya sama shampoo jaman baheula itu..., tapi yang pasti udah beberapa hari ini aku lagi mengagumi rambutku yang hitam kemilau namun tak alami he..he..he...(abis udah berulang-kali ganti warna, akhirnya pingin aja balik lagi keliatan item).

Tapi sayangnya...., walaupun rambut hitam ini udah nempel berhari-hari di kepalaku ini, aku masih suka kaget kalo keliatan bayanganku sendiri di cermin hi..hi..hi... Kadang aku mengagumi wajahku yang sekarang keliatan lebih meng-Asia, tapi kadang merasa aneh juga setelah bertahun-tahun berwarna cerah. Padahal apa anehnya ya orang Asia berambut hitam?!? Khan emang kodratnya gitu, baru sadar aku kalau selama ini aku nyalahi kodrat ya... Tapi efeknya aku koq ngga bisa tidur ya....(emang ada hubungannya gak bisa tidur sama ganti warna rambut...), aku juga bingung loh...rasa apa yang ada di dada ini, kagum atau penyesalan...?!?

Sebenarnya pren..., aku suka juga punya rambut hitam kemilau seperti saat ini, tapi sayangnya mukaku jadi keliatan pucet dan judes kalo diem, apalagi kalo lagi manyun ya... Lagian, kalo selama ini aku suka mewarnai rambut yang mirip londo bukan karena eksyen aja, tapi juga untuk menyamarkan uban yang mulai bermunculan he..he..he..(udah tua juga eke ya...)

Nah yang jadi masalah, aku khan udah lama banget demen punya rambut dengan warna yang selang seling...laksana baju yang kelunturan, kini aku juga pingin ada nada laen di atas kepala ini, coba mau tahu engga warna apalagi yang akan aku saputkan dirambut ini....abu-abu dan perak ha..ha..ha... Kalau sebelumnya aku warnai rambutku biar keliatannya muda terus...., kini malah mau tampil kayak nenek-nenek.

Oh...., emang dasar aku ini orang yang engga pernah puas dengan apa yang udah aku punya ya... Tapi..., tunggu aja deh beberapa bulan ke depan, warna apalagi yang bakal nempel di atas kepalaku ini hi..hi..hi....

Friday, January 27, 2006

Keheninganku

Hari ini aku suntuk banget, seperti yang sebelum-sebelumnya, engga bergairah untuk ngapa-ngapain. Tapi ketika hari telah berganti malam, aku mulai bergairah, apalagi kalo udah lewat jam 00.00, pasti deh waktunya aku ngeronda, mata makin bersinar, menggantikan posisi matahari yang sudah tenggelam berjam-jam yang lalu, seakan setia menemani rembulan yang kadang muncul kadang tertutup awan gelap pekat, dan menjaga setiap mimpi yang datang untuk membuai setiap orang yang pulas dalam tidurnya.

Aku coba pejamkan mata ini, tapi aku tak ada kesanggupan untuk mengatupkan kelopak mataku ini. Semakin aku bersemangat untuk tidur, semakin terbuka lebar mata yang sipit ini (bingung khan......).

Aku coba pula untuk kembali mengoreskan kata-kata untuk membuat kalimat, tapi tak sanggup pula aku merangkainya menjadi cerita indah. Sedih aku menghadapi keadaan ini, sampai kapan ini akan berjalan.... Akupun tak tahu.

Telah aku coba menghitung deretan biri-biri yang berbaris rapi untuk bersiap-siap melompat pagar, tapi semua itu tidak mempan. Lembaran demi lembaran aku tulis, aku coret dan akhirnya aku remas sebelum masuk ke tong sampah, tak membuat aku mengantuk juga.

Apa sih sebenarnya yang terjadi padaku? Sedang jatuh cintakah aku? Bagaikan oang yang sedang kasmaran, aku seakan tak ingin melewati perginya waktu begitu saja. Aku coba nikmati kesunyian malam yang makin menjerat, hingga akhirnya aku terkapar di kursi kesayanganku.

Kucoba temukan inspirasi dalam keheningan malam, tapi tak satupun muncul berkelebat di kepala yang mungkin sudah penuh berjubel dengan berbagai macam masalah. Ingin aku memaki diriku sendiri, mengapa harus begini? Namun tak sepatah katapun meluncur dari bibir ini maupun dari lubuk hati.

Kini aku mulai bersahabat dengan malam yang sunyi dan sepi dengan kesendirianku dan fantasiku, dunia yang berbeda, yang kita bisa mengganti setiap peran yang ada. Apakah ini yang namanya gejala autis ya.... Engga tahu ahh!!! (Emang autis bisa nyerang orang dewasa?). Tapi yang pasti aku sangat menikmati semua itu...karena pada saat itu, aku kembali menjadi diriku sendiri, menikmati semua predikat yang ada di diri ini, dan tak ada yang mengusik keheninganku. Mencoba mencari jawaban dari pertanyaan batin yang belum kutemukan.

Sunyi............
Sepi...............
Oh, indahnya keheningan malam!!!

Monday, January 16, 2006

Oh...susahnya berbahasa Jerman...(2)

Ini lagi-lagi pengalaman nyata yang bikin aku jadi bener-bener malu.

Kayaknya banyak kisahku deh di Goethe Institut, itu yang membuat aku kian terkenal di sekolah bahasa Jerman di Bremen tercinta. Makanya kalo banyak cowok deket sama aku atau banyak teman yang ngundang aku dateng ke Wohnheim selama aku kursus di situ, bukan karena aroma rexona-ku loh...tapi mereka berharap aku salah ngomong yang bisa jadi bahan guyonan yang bikin aku jadi sebel, apalagi kalo mereka ngingetin lagi pas kami lagi suntuk. Lumayan kata mereka untuk ngilangin stress.


Nah, ini lagi-lagi kejadiannya di Goethe Institut, yang akan mengadakan festival kecil-kecilan. Dan aku beserta grup-ku yang selalu kompak mendapat tugas untuk menghias ruangan kami. Tentu saja kami dengan senang hati menerima tugas itu, apalagi kami sudah terkenal sebagai ahli dekorasi yang kreatif.

Setelah diskusi dan comot ide dari sana sini, akhirnya mereka memutuskan aku yang membuat dekorasinya dan mereka yang akan mencari bahan serta menyediakan konsumsi. Aku ho-oh aja, karena aku emang seneng bikin pernak-pernik hiasan pesta, dan aku juga males keluar, karena hawa diluar terlalu dingin buatku yang belum terbiasa dengan musim dingin.

Setelah rapat, diputuskan Damian (Argentina), Carrie (Taiwan) dan Suzanna (Mexico) yang akan mencari bahan dekorasi, Koga (Jepang) dan Sebastian (Canada) menyediakan konsumsi, Hasan (Yunani), Desmond (Thailand) dan aku sebagai team pelaksana dan kreatif. Jadi kami bisa datang agak telat dikit hi..hi..hi..., sambil menunggu mereka ngasih kabar kalo mereka sudah hampir datang, kami nangkring dulu di cafe Grün yang ada di sebelah Goethe Institut. Abis tempatnya lumayan keren dan harganya terjangkau banget.

Setelah semua telah datang, kami langsung memulai melaksanakan tugas kami dengan penuh semangat diselingi gurauan atau rumpian gosip yang lagi beredar, dan tentu aja sambil ngedate untuk jalan bareng lagi, abis emang kami paling demen jalan bareng.

Gambar sana-gambar sini, gunting sana-gunting sini, terus yang lain jadi ikutan ngebantuin mewarnai atau apa aja, pokoknya kami maunya tugas cepet selesai dan cepet kabur lagi. Pas hampir selesai, kami menikmati hasil yang tinggal sentuhan akhir aja. Ehmmm.....lumayan bagus juga sih menurut kami, tapi begitu semua sudah ditempel di dinding, kami memutuskan untuk menambahkan saputan warna hijau muda supaya nuansa teduh dan asri lebih terasa. Seperti biasa...pasti aku yang dapet giliran finishing yaitu memulas pewarna yang sudah disiapkan, mereka bilang kalo aku yang melakukan pasti lebih halus hasilnya karena aku engga grogi kalo megang kuas.

Ya...karena sudah terlanjur dipasang di dinding dan aku terlalu pendek untuk menyaput bagian paling atas, maka aku putuskan untuk naik kursi, dan Hasan membantu memegang mangkuk berisi pewarna, sedang Koga yang megangin kursi. Sedang Damian berdiri di sebelah kiriku untuk siap-siap membantu kalo aku memerlukan sesuatu. Yang lain duduk di meja seberang untuk melihat hasilnya sambil ngemil camilan yang ada. Poles sana-poles sini, teman-teman yang lain bilang udah ok, jadi aku berputar pelan-pelan, tersenyum lega dan bersiap-siap untuk turun, nah disinilah kecelakaan kata terjadi, koq ya pas ada beberapa orang dari ruang lain masuk ke ruangan kami karena mau melihat hasil dekorasi kami. Karena aku takut kalo kuas yang aku pegang akan menyentuh tembok ruangan yang putih bersih, maka aku minta tolong salah satu temanku untuk memegang kuasku sambil ngomong,"Kannst du bitte mein Brust halten?" Dengan serempak Damian, Hasan dan Koga menyahut,"Gerne....!!!", dan diiringi gelak tawa dari banyak orang yang ada di ruangan itu.

Sialan, maunya mau ngomong Bürste (kuas) keseleo jadi Brust (dada), aduh....malunya engga ketulungan. Sejak itu aku makin tenar dengan kata-kataku yang super 'wouw'. Tentu aja aku engga berharap peristiwa konyol itu terulang lagi........

Oh...susahnya berbahasa Jerman...(1)

Ini kisah nyata yang bener-bener terjadi pada diriku, yang membuat aku males belajar bahasa Jerman. Tapi sebenernya kalo sampai saat ini aku tetep aja 'e-ok' bahasa Jerman ya karena salahku sendiri yang engga ada niat untuk berkembang dalam berbahasa Jerman, akhirnya seperti yang diduga....bahasa Jerman-ku jadi buruk sekali.

Kejadian ini memang sudah berlalu 6 tahun yang lalu, tapi tetep aja membuat aku tetep gak pede untuk berbicara dalam bahasa Jerman yang baik dan benar, mungkin karena aku takut salah lagi dan malu untuk berbuat kesalahan yang sama, apalagi didukung dengan kondisi yang selalu dikelilingi oleh teman setanah air yang notabene berbahasa Indonesia, bahkan hampir tiap hari aku berbahasa Jawa yang seringnya khas suroboyoan.

Nah, aku ceritain ya kejadian itu...

Kisah yang sudah berlalu 6 tahun itu, pada saat aku lagi gemar-gemar belajar berbicara dalam bahasa Jerman di Goethe Institut. Dan pada saat itu aku belum bertemu dengan banyak orang Indonesia, kalopun ada tapi aku belum akrab. Karena kebanyakan dari kami berlainan bangsa dan bahasa Inggris kami juga ngepas banget, jadi mau ngga mau kami harus memakai bahsa Jerman sebagai bahasa pengantar.

Dan ehem..ehem..., aku...Fanny yang selalu menebarkan 'Pesona'....(rexona ha..ha..ha...), selalu aja penuh dengan undangan kencan makan bareng....pokoknya saat itu aku laris banget deh diundangin ma'em sana sini. Aku sih he-eh aja, sampai dari timbangan badanku yang hanya 49 kg melonjak jadi 54 kg dalam waktu singkat ha..ha..ha...

Bla..bla..bla....

Sampai pada suatu saat aku pergi ke resto beramai-ramai sama temen-temen dari Jepang, Thailand, Yunani, Mexico dan Argentina. Kami sebenarnya pingin mraktek-in bahasa yang sedang kami pelajarin ceritanya, karena besok ada test 'mundlich' tentang 'Essen und Trinken'.

Dandanan udah ok punya dan kantongpun sudah diperhitungkan, lalu dengan pede-nya kami melangkahkan kaki masuk ke resto yang lumayan keren, dan dengan keyakinan diri kami duduk di salah satu sudut dengan elegant.

Dari berbagai macam menu yang ada kami sengaja memilih menu yang belum kami kenal, dan kami sudah kompakan untuk memilih menu yang berbeda, jadi kami bisa saling icip hi..hi..hi...
Setelah membaca satu persatu secara berbisik (supaya kami bisa saling ngebenerin kalo salah sebut dan kalo bisik-bisik khan ngga kedengeran sama meja yang lain dong....), dan...6 menu kami pilih, tentu dengan rasa percaya diri setelah sudah saling mengkoreksi cara ngomongnya karena kami bawa 'kerpekan' dan kamus he..he..he...(ini mau ma'em apa kursus ya...)

Cak..cak..cak..., pilihan sudah ditentukan, akhirnya kami menutup menu sebagai tanda bahwa kami sudah menemukan apa yang kami mau, datanglah pelayan yang masih 'nyes' dan berwajah super cute dengan rambut klimis disisir ke arah belakang, pokoknya rapi jali deh.
Dan karena udah yakin banget kalo untuk pesanan minuman sudah bener, terus sinyo ganteng si pelayan keren nanya, apakah mau langsung pesan makanannya sekalian, dan kami mengiyakan.

Maka satu persatu dari kami menyebutkan menu yang sudah dipilih, tapi sialnya...begitu giliran aku yang harus menyebutkan nama makanan itu lidahku kepleset he..he..he...gak tahu grogi karena digodain sama si Hasan yang tukang usil dari Yunani atau pingin ketawa ngeliat sinyo klimis itu (karena kami baru aja ngomongin tentang rambut klimisnya he..he..he...), akhirnya...terjadilah kecelakaan komunikasi. Karena pada saat dia nanya ke aku, aku dengan cepatnya menjawab, kenceng lagi, dari yang super pede sampe akhirnya jadi super malu deh, abis aku ngejawabnya,"Ich möchte gerne ein Toilet haben" Terang aja semua pada ngakak, termasuk tamu di meja yang lain yang sedari tadi merhatiin kami yang buka tutup kamus terus-terusan. Dan lebih malu lagi...karena dia tahu banget apa yang aku maksud... Kotelett, eh..., dia ngebales sambil mamerin giginya yang cling,"Gern..., sind Ihre Zähne stark genug zum kauen?"

Ih....sebel banget deh, engga tahu deh, warna apa yang ada di wajahku, yang jelas pemerah pipiku pun jadi engga keliatan lagi. Pokoknya aku jadi bahan ketawaan ohne ende deh.
Sejak itu aku selalu mencoba melafalkan 'Kotelett' (daging iga)---yang bisa bikin muka merah kalo salah sebut--- berulang kali, sampe engga salah.

Sunday, January 15, 2006

Non..non....!!!

Non....non.....!!!

Ih..., saat itu kalau aku sudah mendengar suara lelaki yang sudah beken ditelingaku, aku pasti ngibrit deh!! Kabur ke mana aja, yang pasti ngumpet sampai ke tempat yang paling sudut. Karena aku tahu, pasti aku bakal disuruhnya untuk berjalan diatas punggungnya sambil menghitung satu sampai seratus dengan perlahan-lahan.


Non....non.....!!!

Oh..., kenapa ganti suara perempuan itu yang berkumandang ke seluruh penjuru rumah, yang membuat aku makin kecut, dan lari sejauh mungkin dari pintu belakang. Pasti buntut-buntutnya aku disuruh masak nasi, yang pada saat itu kami belum mengenal apa itu yang namanya rice-cooker. Kalo terlalu keras nasinya pasti dibilang nasi itu sekeras sifatku. Tapi kalo nasinya kelembekan, pasti dibilang kayak tenagaku yang gampang loyo.


Non....non.....!!!

Ah..., suara itu yang selalu menyambutku setiap aku pulang sekolah. Suara perempuan lain yang ada di rumahku. Suara yang selalu menawarkan berbagai macam makanan yang ada di dapur yang membuatku gendut. Suara yang selalu membela saat aku mempunyai masalah atau berbuat kesalahan.


Tapi kini tidak ada lagi seruan-seruan yang seperti lagu kebangsaan di telingaku.
Tapi kini tak ada lagi panggilan-panggilan mesra mendayu di telingaku.


Setelah aku tumbuh dewasa, suara-suara yang pernah memanggil aku dengan 'Non' berada jauh di belahan bumi yang lain.


Dulu saat suara itu berkumandang...
ingin aku jauh terbang.
Kini tak ada lagi suara bagai jerit...
yang membuat aku terbirit-birit.


Non....non.....!!!

Mengapa tak ada panggilan itu lagi ketika aku siap berbakti?
Mengapa tak ada lagi panggilan yang membuat aku berarti?

Oh,
suara papaku....
suara mamaku...
suara bibiku...

Kini aku merindukan panggilan mesra itu,
yang dulu bagaikan suara hantu.
Kapan lagi aku akan mendengar suara-suara yang memanggilku seperti itu?
Akankah mereka mengulangi memanggilku seperti itu?


Non...non....!!!

Aku berharap
saat aku pulang kembali ke tanah air
mereka siap
menyerukan panggilan secara bergilir

Aku sangat merindukan suara-suara mereka
memanggilku dengan mesra....

Non....non.....!!!

Kisah kasih yang tak tercapai....

Dulu.....when I was young, pada masih seger-segernya nih..., aku pernah bercita-cita dapet cowok yang ok banget, dari fisik, penampilan, kepribadian dan kantong yang juga ok he..he..he...(matre banget ya..., hush!!! Bukannya materialistis, tapi realistis aja....abis aku khan paling demen kalo dimanja-manjain..., lagian gak usah lah munafik...kalo punya cowok gak ada jaminan hidupnya, buat apa ditungguin hi..hi..hi...).

Nah, ngga tahu siapa yang memulai, entah dari akunya atau itu cowok, pokoknya mendadak aja semuanya terjadi. Maksudnya setelah ketemuan, entah pake jabu-jabu apa, pokoknya itu cowok setelah ketemu sama aku jadi ngintiiiiiiiill melulu. Seneng juga sih dikintilin cowok cakep he..he..he...apalagi dia memenuhi syarat banget deh.

Dari pertemuan yang satu dan pertemuan yang selanjutnya..., lama-lama kami jadi keranjingan untuk nge-date terus deh. Pokoknya kami lupa daratan dan selalu berusaha untuk meluangkan waktu walaupun satu jam saja.....kata Asti si penyanyi yang bersuara mesra hhhmmmmm....

Dari cara dia memperlakukan aku, dan juga sifat-sifat lain yang aku tahu...dia orangnya sosial banget dan juga gentleman banget deh, sampai aku terbuai oleh kata-kata yang mesra di telingaku. Seribu satu warna, tak ada yang seindah warna yang dilukiskan dalam hidupku. Pokoknya bagiku dia ngga ada cacatnya deh!!! (saat itu.......)

Sampai pada suatu ketika, diantara berisiknya musik pesta perpisahan di rumah seorang teman, dia mengajakku mojok, menuntunku dengan mesra dan mencari tempat yang lebih tenang dan agak gelap. Hatiku menjadi bergetar, kala darah mudaku bergolak, sampe keluar keringat dingin lagi.....

Akhirnya kami menemukan tempat yang sesuai dan dia mengajakku duduk disudut yang temaram oleh lampu 5 watt, tapi dia sendiri tetap berdiri, berjalan hilir mudik dengan bibir yang dikatupkan rapat dan matanya memejam. Dia berjalan hilir mudik kayak setrikaan dihadapanku... Malam itu agak dingin, tapi peluh tetap membasahi sekujur tubuhnya dan membuat kemeja biru itu menjadi kuyup, lalu dia duduk bersimpuh dihadapanku, dan dia menempelkan kepalanya di lututku, tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu......sampai aku sendiri jadi tertegun. Aku bingung harus berbuat apa...., aku tak tahu bagaimana harus menghiburnya....

Ketika aku berniat untukbangkit, dia makin memeluk erat kedua lututku, aku jadi makin bingung... Sampai pada akhirnya dia berkata, bahwa aku harus mendengarkan pengakuannya... Akhirnya ditengah kebingunganku, aku duduk kembali di bangku reot itu, gelisah di tengah keresahan. Ada apakah dengan dia.....???

Setelah menunggu beberapa saat, lalu dia duduk disebelahku, memegang erat dan meremas tanganku... Lalu kubelai rambutnya yang juga oleh keringat, namun harum aroma tetap tercium dihidungku yang rada pilek. Ketika dia sudah siap untuk menyampaikan isi hatinya, aku jadi makin deg-deg-an.... Ganti aku yang gemetaran....

Dan bagaikan disambar geledek, aku jadi tersentak dan terhenyak ditembok dingin yang menjadi sandaranku. Pengakuan terakhir itu membuat aku jadi sangat terpukul ketika dia berkata padaku,"Fanny, please....forgive me, jangan kau jauhin aku, aku sudah mencoba untuk selalu membakar semua gelora di dada saat aku bersamamu, aku selalu mencoba mencumbuimu dalam setiap mimpiku, tapi aku tak sanggup lagi melawan kenyataan ini, bahwa aku seorang homo...."

Aku terpaku menatap wajah gantengnya yang selalu mempesonaku. Aku terdiam seribu bahasa di malam yang membisu, tak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Aku hanya terperangah dan ahhhh...........entah apa lagi yang ada dalam benakku saat itu.

Berdua kami duduk membisu lagi, lalu kupegang erat tangannya dan mencoba untuk tersenyum..., aku mengangguk sedih. Tapi aku mencoba memaklumi keadaannya, tentu dia telah lama berjuang keras untuk melawannya, tapi ya....nasib!!! Akhirnya aku kalah deh dengan takdirnya.

Aku mencoba untuk tetap dekat dengannya, kami tetap berdua berjalan dengan mesranya, sampai pada akhirnya dia pamit untuk pergi, karena dia takut banyak orang tahu siapa dia sebenarnya. Aku sedih dan menangisi semua itu...tapi aku harus menghargai keputusannya.

Walaupun saat itu kami telah berencana untuk menikah jika usia kami telah mengijinkan, sekedar menjadi topeng buat keluarganya yang sangat terhormat, tapi di saat waktu itu tak jauh lagi, dia mengatakan bahwa sangat tidak fair buatku kalau kami melakukan itu. Dia tak mau orang akan berpikir bahwa aku perempuan engga beres kalau suatu saat orang memergoki aku dengan pria lain.

Terputuslah kisah kasih yang telah kami jalani pada saat masa remaja....kemesraan itu telah lenyap, entah ke mana dia pergi meninggalkan aku yang sendiri dalam sedih. Terbayang kembali ketika dia duduk dengan manisnya dengan handuk di tangan ketika menungguiku berenang, ketika dia membasuh keringat di keningku pada saat aku lelah setelah berlatih taekwondo. Dia yang rajin mendengarkan celotehan kekesalanku pada saat aku lagi sebel dengan siapa saja. Dia yang selalu tersenyum sambil memetik gitar menanggapi omelanku.

Pernah aku berusaha mencari seseorang yang seperti dia, tapi aku tak pernah menjumpai. Aku jadi gelisah sendiri..., patah semangat mencari pengganti yang seperti dia. Tak ada yang seromantis dia deh. Betapa beruntungnya siapapun yang mendapatkannya.

Terkadang aku jadi tersenyum sendiri, ketika aku cemburu dengan fantasiku sendiri, tak mungkinlah aku bersaing dengan para pria untuk merebut hatinya. Tapi paling tidak kami pernah saling mewarnai hidup bersama, walaupun akhirnya warna itu tak lagi bisa membaur.

Pada saat aku diam...kembali aku terkenang pada kisah kasih abstrak itu, tak percaya tapi nyata, heran dengan cerita cinta yang tak wajar. Sampai saat ini, aku selalu mendoakan agar dia menemukan pendamping yang sesuai....mungkin yang cerewet, centil dan judes kayak aku ya....